2,7 Juta Warga RI Putus Asa Mencari Kerja: Potret Kelam Pasar Tenaga Kerja Indonesia

Di balik klaim penurunan angka pengangguran terbuka yang kerap digaungkan pemerintah, tersimpan realitas yang jauh lebih pahit: sebanyak 2,7 juta warga Indonesia kini berada dalam kondisi putus asa mencari kerja—sebuah lonjakan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun 2019 yang hanya mencapai 883 ribu orang[1]. Angka ini diungkap oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berdasarkan analisis Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dikelola Badan Pusat Statistik (BPS)[1].

Apa Itu "Putus Asa Mencari Kerja"?

BPS mendefinisikan kelompok ini sebagai bagian dari kategori pengangguran, yaitu penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja dan merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan, sehingga berhenti berusaha mencari[2]. Istilah teknis untuk kelompok ini dalam literatur ekonomi ketenagakerjaan adalah discouraged workers—mereka bukan lagi aktif melamar kerja, namun juga belum benar-benar keluar dari angkatan kerja secara psikologis[3].

Kepala Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN, Zamroni Salim, menegaskan bahwa kondisi ini terjadi di tengah membeludaknya jumlah pencari kerja aktif di Indonesia, yang meningkat dari 7,8 juta orang pada 2019 menjadi 11,7 juta orang pada 2024[1].

Siapa Saja yang Paling Terdampak?

Data menunjukkan kelompok putus asa ini didominasi oleh lulusan SD atau tidak tamat SD, dengan porsi mencapai 37,97 persen, diikuti lulusan SMA sebesar 24,86 persen, SMP 20,72 persen, SMK-MAK 10,08 persen, dan lulusan S1 sebesar 4,59 persen[1]. Yang mengkhawatirkan, Zamroni menyoroti bahwa lonjakan paling drastis justru terjadi pada kelompok lulusan SMP, SMA, dan sarjana—mengindikasikan adanya masalah struktural dalam perekonomian yang gagal menyerap tenaga kerja terdidik sesuai harapan[1].

Dari sisi wilayah, mayoritas kelompok putus asa kini justru berada di perkotaan dengan porsi 63,59 persen, berbanding terbalik dengan kondisi 2019 saat pedesaan masih dominan dengan 53,27 persen[1]. Berdasarkan generasi, Generasi X dan yang lebih tua menyumbang porsi terbesar sekitar 38,17 persen, disusul Generasi Milenial 24,56 persen, dan Generasi Z 24,09 persen[1].

Data Terbaru: Tren Terus Meningkat di 2025

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkuat temuan BRIN dengan data yang lebih baru. Jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa tercatat meningkat dari 1,68 juta orang pada Februari 2024 menjadi 1,87 juta orang pada Februari 2025, atau naik sekitar 11 persen dalam setahun[4].

Peneliti LPEM FEB UI, Muhammad Hanri, menyebut lonjakan belasan persen dalam satu tahun ini menandakan adanya segmen penduduk yang bergeser dari posisi "mencari kerja" menjadi "menyerah", yang berarti kehilangan kepercayaan terhadap peluang pasar kerja yang tersedia[4]. Dari data Februari 2025, lebih dari separuh kelompok putus asa ini—sekitar 50,07 persen—berasal dari penduduk berpendidikan SD atau tidak tamat SD, sebuah bukti bahwa hambatan struktural yang dialami kelompok berpendidikan rendah jauh lebih dalam ketimbang sekadar kurangnya lowongan kerja[1].

Paradoks di Balik Data Pengangguran Resmi

Menariknya, fenomena putus asa mencari kerja ini terjadi bersamaan dengan tren penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional. BPS melaporkan TPT pada Februari 2026 berada di level 4,68 persen, turun tipis dari 4,76 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan total pengangguran tercatat 7,24 juta orang[5]. Sebelumnya, pada November 2025, jumlah pengangguran tercatat 7,35 juta orang, turun 109 ribu orang dibandingkan Agustus 2025[6].

LPEM FEB UI menegaskan bahwa meski jumlah kelompok putus asa ini tidak signifikan secara statistik dan tidak mempengaruhi angka TPT resmi, hal ini tetap memberi sinyal masalah ekonomi yang lebih dalam—seperti melemahnya mobilitas ekonomi ke atas, terbatasnya layanan penempatan kerja, atau meningkatnya mismatch antara keterampilan tenaga kerja dan lowongan yang tersedia[1]. Di banyak negara, lonjakan kecil dalam kelompok ini kerap mendahului stagnasi partisipasi kerja atau naiknya sektor informal, terutama saat kelompok rentan merasa peluang yang ada tidak realistis untuk dicapai[1].

Pekerjaan Rumah bagi Kebijakan Ketenagakerjaan

Zamroni menekankan bahwa lonjakan pencari kerja terdidik yang berujung putus asa menunjukkan adanya kegagalan struktural ekonomi Indonesia dalam menyerap tenaga kerja formal, meski angka unemployment rate tercatat hanya 4,8 persen pada 2025[1]. BPS sendiri mencatat, di antara pengangguran terbuka, lulusan SMK justru menyumbang tingkat pengangguran tertinggi dengan 7,74 persen pada Februari 2026, disusul lulusan SMA dan sarjana[5].

Fenomena discouraged workers ini menjadi pengingat bahwa statistik pengangguran resmi tidak selalu mencerminkan realitas penuh di lapangan. Selama sistem pendidikan vokasi, penciptaan lapangan kerja formal, dan layanan penempatan kerja belum bisa menjawab kebutuhan riil pasar tenaga kerja, jumlah warga yang menyerah mencari pekerjaan berpotensi terus bertambah di tahun-tahun mendatang.


Referensi

  1. CNBC Indonesia. "Data BRIN: 2,7 Juta Warga RI Sudah Putus Asa Cari Kerja." 22 Desember 2025. cnbcindonesia.com
  2. Badan Pusat Statistik. "Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia." bps.go.id
  3. Suara.com. "Fenomena Discouraged Workers: Mengapa Jutaan Warga RI Menyerah Cari Kerja." 22 Desember 2025. suara.com
  4. Kumparan Bisnis. "LPEM FEB UI: 1,87 Juta Penduduk RI Mulai Menyerah Cari Kerja." 5 Desember 2025. kumparan.com
  5. Delik News. "Angka Pengangguran Tembus 7,24 Juta Orang, Kelompok Usia 15-24 Tahun Catat Rekor Tertinggi." 5 Mei 2026. deliknews.com
  6. Detik.com. "BPS: Jumlah Orang yang Menganggur Sebanyak 7,35 Juta." 5 Februari 2026. detik.com

Komentar

Recent Posts