Benarkah Literasi Indonesia Mengalahkan Korea Selatan? Membongkar Paradoks Data CEOWORLD 2024



Kabar gembira (dan mengejutkan) baru saja mengguncang jagat maya. Sebuah survei dari CEOWORLD Magazine (2024) menempatkan Indonesia di Peringkat 31 negara paling rajin membaca di dunia, dengan rata-rata 129 jam membaca per tahun.

Yang membuat heboh? Peringkat kita berada di atas negara maju seperti Korea Selatan (#33)Jepang (#27 - beda tipis), dan Jerman (#34).

Bagi kita yang terbiasa mendengar narasi "Minat baca Indonesia peringkat 2 terbawah di dunia", berita ini seperti angin segar. Namun, sebagai insan yang berpikir kritis, kita perlu bertanya: Apakah data ini valid? Atau kita sedang terjebak dalam euforia semu?

Mari kita bedah faktanya.



1. Membedah Sumber Data: Kuantitas vs Kualitas

Klaim ini berasal dari survei World’s Most Reading Countries 2024 oleh CEOWORLD Magazine yang mensurvei 6,5 juta orang di 102 negara.

PeringkatNegaraJam Membaca/TahunRata-rata Buku/Tahun
#1Amerika Serikat357 jam17 buku
#2India352 jam16 buku
#31Indonesia129 jam~6 buku
#33Korea Selatan125 jam~5-6 buku

Data di atas menunjukkan Kuantitas (durasi dan jumlah), bukan Kualitas (pemahaman).

Paradoks "Rajin Baca tapi Tidak Paham"

Jika kita sandingkan data CEOWORLD ini dengan tes standar global seperti PISA (Programme for International Student Assessment), kita akan menemukan jurang yang menganga lebar.

  • Korea Selatan: Peringkat 5 Terbaik Dunia (PISA 2022). Skor Literasi: 515.
  • Indonesia: Peringkat 69 dari 81 Negara (PISA 2022). Skor Literasi: 359.

Bagaimana mungkin negara yang "kalah rajin" (Korea) justru memiliki skor pemahaman jauh lebih tinggi?

2. Mengapa Data Ini Bisa Terjadi?

Ada beberapa hipotesis logis yang bisa menjelaskan fenomena ini:

A. Definisi "Membaca" yang Berbeda

Survei CEOWORLD kemungkinan menghitung segala bentuk aktivitas membaca, termasuk:

  • Membaca novel di Wattpad/platform digital (sangat populer di Indonesia).
  • Membaca utas (thread) panjang di media sosial.
  • Membaca buku agama/kitab suci (rutinitas harian mayoritas masyarakat Indonesia).

Sementara PISA mengukur kemampuan siswa menganalisis teks kompleks, menyimpulkan informasi tersirat, dan mengevaluasi argumen. Kita rajin "mengkonsumsi teks", tapi belum tentu "memproses makna".

B. Faktor "Palli-Palli" (Kesibukan) Korea

Masyarakat Korea Selatan dikenal dengan jam kerja dan jam sekolah terpanjang di dunia. Waktu luang mereka untuk leisure reading (membaca santai) sangat terbatas. Sebaliknya, masyarakat Indonesia mungkin memiliki lebih banyak waktu luang untuk menikmati bacaan ringan.

3. Realitas Pahit: PIAAC dan Literasi Dewasa

Bukan hanya PISA (untuk anak 15 tahun), survei PIAAC (Programme for the International Assessment of Adult Competencies) yang mengukur literasi orang dewasa juga memberikan "tamparan keras".

Data PIAAC (OECD) menunjukkan mayoritas orang dewasa di Jakarta (sebagai sampel representatif terdidik) berada di Level 1 atau di bawahnya. Artinya, banyak dari kita mampu membaca kalimat, tapi kesulitan memahami instruksi kompleks atau membedakan fakta dan opini dalam sebuah artikel berita.

4. Kesimpulan: Jangan Terlena, Jadikan Motivasi

Berita bahwa Indonesia mengalahkan Korea Selatan dalam "jam membaca" bukanlah hoaks, tapi data yang harus dibaca dengan konteks yang tepat.

Kabar Baiknya: Kita punya modal Minat. Orang Indonesia tidak malas. Kita mau meluangkan 129 jam setahun untuk membaca.

PR Besarnya: Kita perlu menaikkan Level Bacaan.

  • Dari sekadar membaca status galau, mulai baca esai opini.
  • Dari sekadar membaca novel romansa, mulai baca fiksi sejarah atau sains populer.
  • Dari sekadar scrolling, mulai thinking.

Jadi, banggalah secukupnya. Rayakan bahwa kita punya semangat baca, tapi jangan lupa bahwa di kompetisi pemahaman (literasi sesungguhnya), kita masih harus lari maraton mengejar ketertinggalan.

"Membaca tanpa memikirkan ibarat makan tanpa mengunyah." - Edmund Burke


Artikel ini ditulis berdasarkan analisis data CEOWORLD Magazine 2024, OECD PISA 2022, dan PIAAC Survey. 

Komentar

Recent Posts