Everything Is Tuberculosis: Kepakaran John Green Menyuarakan Kisah Terlupakan dari Infeksi Tersubur


Pendahuluan: Mengapa Buku Ini Menang Goodreads Choice Award 2025?

Saat kita mengira COVID-19 adalah pandemi terburuk dalam ingatan kita, John Green mengingatkan: Tuberculosis sudah membunuh satu dari tujuh manusia yang pernah hidup. Buku "Everything Is Tuberculosis: The History and Persistence of Our Deadliest Infection" bukan sekadar sejarah medis—ini adalah suar panggung untuk 1,25 juta nyawa yang hilang setiap tahun dari penyakit yang sudah bisa disembuhkan sejak 1950-an.

Menang Goodreads Choice Award for Readers' Favorite Nonfiction 2025 bukan kebetulan. Buku ini menggabungkan naratif personal yang menyayatriset ilmiah yang mendalam, dan kritik sosial yang tajam tentang mengapa kita—masyarakat modern—membiarkan TB terus membunuh.


Identitas Buku

DetailInformasi
JudulEverything Is Tuberculosis: The History and Persistence of Our Deadliest Infection
PenulisJohn Green (Best-selling author, vlogger, activist)
PenerbitCrash Course Books (Penguin Random House)
Tahun Terbit2025
Halaman400+ halaman
GenreNonfiksi Ilmiah, Sejarah Medis, Sosial Justice
PenghargaanGoodreads Choice Award Winner 2025 (Readers' Favorite Nonfiction)
ISBN9781101592410 (Ebook)

Ringkasan: Dari James Watt hingga Henry Reider

Buku ini mengikuti dua naratif paralel:

Naratif Historis (1800-an hingga 1950)

  • James Watt (penemu mesin uap) kehilangan putranya Gregory pada usia 27 tahun karena TB (dulu disebut "consumption")
  • Stokes Goodrich, paman buyut John Green, meninggal 1930 di sanatorium Asheville
  • Robert Koch (Bapak Bakteriologi) menemukan M. tuberculosis (1882) tapi gagal dengan "obat" tuberculin
  • Arthur Conan Doyle (creator Sherlock Holmes) mengungkap kegagalan Koch
  • Paul Ehrlich menemukan streptomycin (1943) → obat pertama yang efektif

Naratif Kontemporer (2019-2024)

  • Henry Reider, remaja Sierra Leone yang hidup dengan TB resisten obat (DR-TB) sejak usia 6 tahun
  • Shreya Tripathi, aktivis TB muda yang meninggal 2021
  • Dr. Peter Mugyenyi, doktor Uganda yang memperjuangkan akses obat HIV/AIDS dan TB

Claim Utama: Kita sudah punya obatnya sejak 1950-an, tapi 150 juta orang mati sejak itu karena obatnya "di mana penyakit tidak ada, dan penyakitnya di mana obat tidak ada."


5 Tema Besar yang Diangkat

1. TB adalah Wabah Terselubung (The Hidden Pandemic)

Fakta Kekutan:

  • 2023: 1,25 juta orang mati TB → lebih banyak dari malaria, tifus, dan perang
  • COVID-19 hanya menggantikan TB sebagai penyebab kematian terbanyak pada 2020-2022
  • 2023: TB kembali sebagai #1 penyakit infeksi mematikan
  • 10 juta orang sakit setiap tahun, terutama di negara berpendapatan rendah

John Green's Quote"We are powerful enough to light the world at night, to artificially refrigerate food, to leave Earth's atmosphere... But we cannot save those we love from suffering. This is the story of human history as I understand it—the story of an organism that can do so much, but cannot do what it most wants."

Implication: Kekuatan teknologi kita tidak sebanding dengan kegagalan moral kita.


2. Sains Sejarah: Dari Miasma ke Bakteriologi

Evolusi Pemahaman:

  • Pre-1880: TB disebut "consumption" → penyebabnya "udara buruk", "miasma", "keturunan", atau "hukuman Tuhan"
  • 1882: Robert Koch isolasi M. tuberculosis → germ theory diterima
  • 1890: Koch janji "tuberculin" sebagai obat → GAGAL total dan mematikan
  • 1943: Streptomycin (Selman Waksman) → obat pertama yang efektif
  • 1950-an: RIPE regimen (Rifampin, Isoniazid, Pyrazinamide, Ethambutol) → kurasi 6 bulan

Ironi Besar:

  • Conan Doyle (dokter + penulis) pertama yang kritik tuberculin
  • Koch ingin jadi "pembunuh TB" tapi malah jadi "pembunuh pasien"
  • 100 tahun dari Koch (1882) sampai obat efektif (1950)

Moral: Sains tidak berjalan lurus—dia berjalan melalui trial and error yang mahal (dalam nyawa manusia).


3. Ketidakadilan Global: Obatnya Ada, Tapi Tidak untuk Semua

Paradoks Membunuh:

  • Obat kuratif ada → 6 bulan RIPE = sembuh
  • Tapi 1,25 juta mati setiap tahun → kenapa?
  • JawabanMiskin = mati, kaya = hidup

Data Spesifik:

  • Sierra Leone: Test molekuler DR-TB $10 di negara kayatidak tersedia di Freetown
  • Henry Reider: 17 tahun hidup dengan TB, malnutrisi, obat lama (50+ tahun)
  • Shreya Tripathi: Aktivis muda India yang meninggal karena DR-TB padahal obat baru ada tapi tidak terjangkau

Quote Pembunuh"If you developed bedaquiline-resistant TB, you would be hard to cure but you'd still likely survive... But for Dr. Furin's patient population, the outcome is almost always death. There are so few options for them, and no access to the new drugs through compassionate use."

John Green's Critique"The drugs are where the disease is not, and the disease is where the drugs are not." — Dr. Peter Mugyenyi

Implication: Ini bukan masalah medis, ini masalah politik dan ekonomi.


4. Stigma dan Imajinasi Penyakit

Bagian Paling Powerful: John Green tunjukkan bahwa cara kita bayangkan penyakit menentukan siapa yang hidup dan mati.

Contoh Historis:

  • Leprosy di Prancis abad pertengahan → dimakam hidup-hidup (ritual pemisahan)
  • Leprosy di Afrika pra-kolonial → tidak distigmatisasi (Megan Vaughan)
  • TB di Eropa → "penyakit romantis" (dekadensi artis) tapi juga "penyakit miskin"
  • TB di Sierra Leone → "hukuman Tuhan", "kutukan keluarga", "dosa"

Modern Stigma:

  • Pasien TB di Sierra Leone ditinggal keluarga → 80% pasien isolasi
  • Henry: "Orang panggil saya pastor karena doakan mereka, tapi mereka lari saat saya sakit"

John Green's Reflection"Illness is not only a biomedical phenomenon, but also a constructed one, and how we imagine leprosy or OCD or tuberculosis matters."

Implication: Stigma = penghalang treatment = pembunuh diam-diam.


5. Dari Kegelapan ke Harapan: Henry Reider

Kisar Henry adalah jantung buku ini. John Green bertemu dia di Lakka Hospital, Sierra Leone (2019) dan melakukan follow-up hingga 2024.

Journey Henry:

  • Usia 6 tahun: Diagnosis TB
  • Usia 7: Ayah bawa ke dukun (faith healer) → obat dihentikan
  • Usia 9: Adiknya Favor meninggal (kanker laring)
  • Usia 12: TB resisten obat (DR-TB) muncul
  • Usia 17: Bertahan hidup, sekolah, jadi "inspirasi"

Quote Henry"Mom you are special and beautiful. You stand closer when everyone ran away."

John Green's Bond: John Green menganggap Henry sebagai "anak" (Henry panggil dia "Dad"). Ini adalah naratif personal yang paling menyentuh—bukan hanya statistik, tapi nyawa nyata.


Kekuatan Buku (Mengapa Menang Award)

✅ Naratif Personal yang Menyayat: Dari Gregory Watt hingga Henry Reider—setiap kisah hidup dan mati dengan TB dirasakan

✅ Riset Mendalam: 400+ halaman penuh data historis, ilmiah, dan lapangan. John Green pergi ke Sierra Leone, Lesotho, India

✅ Gaya Penulisan John Green: Humor gelap, metafor kreatif, analogi pop culture (Red Dead Redemption 2, Moulin Rouge) → membuat sains accessible

✅ Kritik Sosial yang Tajam: Tidak hanya jelaskan TB, tapi tuduh sistem yang membiarkan orang mati karena miskin

✅ Call to Action yang Jelas: "End TB Now Act", "STP Program", "TB Fighters" → pembaca bisa bertindak

✅ Relevansi Tinggi di 2025: Post-COVID, kita pahami pandemi → TB adalah pandemi terselubung yang lebih lama


Keterbatasan / Area Pengembangan

⚠️ Panjang dan Padat: 400+ halaman dengan detail teknis bisa membuat pembaca casual overwhelmed

⚠️ Fokus Barat: Meski banyak data Sierra Leone, sejarah medisnya tetap berpusat di Eropa-Amerika

⚠ Kurang Solusi Teknis: Banyak kritik sistem, tapi sedikit detail obat baru (bedaquiline, pretomanid) → pembaca medis mau lebih

⚠ Emotional Weight: Kisah Henry dan Shreya sangat emotional → bisa membuat pembaca merasa hopeless, bukan empowered


Relevansi di 2025 (Mengapa Sekarang)

1. Post-COVID Awareness

  • Kita mengerti pandemi → TB adalah pandemi 2.000 tahun
  • Kita pahami stigma (COVID-19) → TB punya stigma lebih parah
  • Kita tahu vaksin penting → TB vaksin (BCG) sudah ada tapi tidak efektif untuk dewasa

2. Ketidaksetaraan Global Terlihat

  • COVID-19: vaksin cepat tersedia untuk negara kaya
  • TB: obat sudah 70 tahun tapi tidak untuk negara miskin
  • Ironi: Kita bisa vaksinasi 70% dunia dalam 2 tahun untuk COVID, tapi tidak bisa obati TB dalam 70 tahun

3. Generasi Z dan Aktivisme

  • Henry Reider (kelahiran 2000-an) adalah Gen Z TB activist
  • Shreya Tripathi adalah millennial activist yang meninggal
  • Buku ini memberi wajah pada generasi muda yang terpengaruh TB

4. Resistance Crisis

  • DR-TB (Drug-Resistant TB) meningkat
  • Bedaquiline-resistant TB sudah muncul
  • Buku ini peringatan: jika tidak invasi sekarang, kita akan kembali ke era pre-antibiotik

Siapa yang Harus Membaca

SANGAT DISARANKAN untuk:

  • Mahasiswa kesehatan masyarakat, kedokteran, kebijakan publik
  • Aktivis kesehatan global dan sosial justice
  • Orang yang peduli dengan ketidakadilan global
  • Fans John Green yang mau lihat sisi seriusnya
  • Policymakers dan donor internasional

TIDAK DISARANKAN untuk:

  • Pembaca yang mencari cerita feel-good (ini berat)
  • Orang yang tidak tahan dengan detail medis dan kematian
  • Pembaca yang hanya mau fiksi (ini nonfiksi padat)

Kesimpulan & Rating

Rating: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)

Kenapa 5 bintang?

  • Penting: Buku ini tentang 1,25 juta nyawa per tahun
  • Bagus: Penulisan John Green membuat sains menarik dan emosional
  • Relevan: 2025 adalah tahun yang tepat untuk bicara TB post-COVID
  • Aksi: Bukan sekadar buku, tapi gerakan

Catatan: Ini bukan buku "mudah"—ini buku yang membuat Anda marah, sedih, dan tergerak.


Call to Action: Apa yang Bisa Anda Lakukan

John Green tidak hanya menceritakan—dia mengajak:

  1. Dukung End TB Now Act: Lobby Congress AS (jika Anda warga AS)
  2. Donasi ke TB Fighters: Partners In Health, Treatment Action Group
  3. Spread Awareness: Share buku ini, bicara tentang TB
  4. Support research: Vaksin baru, test cepat, obat lebih murah
  5. Advokasi: Tekan pemerintah dan perusahaan farmasi untuk access to cure

Quote Henry Reider"I hope my story can help others. I don't want anyone to feel alone like I did."


Kutipan Favorit dari Buku

"The drugs are where the disease is not, and the disease is where the drugs are not." — Dr. Peter Mugyenyi

"Illness is not only a biomedical phenomenon, but also a constructed one, and how we imagine leprosy or OCD or tuberculosis matters."

"We are the cause. We must also be the cure."

"I can, just barely, fathom Henry. He and I talk all the time now. He likes to call me 'Dad'." — John Green tentang ikatannya dengan Henry


Informasi Lengkap untuk Membeli/Download

ItemDetail
JudulEverything Is Tuberculosis
PenulisJohn Green
PenerbitCrash Course Books (Penguin Random House)
Tahun2025
ISBN9781101592410 (Ebook)
Harga~$25-30 (Hardcover)
AvailableAmazon, Barnes & Noble, Penguin Random House
EbookKindle, Google Books, Kobo

Komentar

Recent Posts