Wisata Bukan Lagi Soal Tempat, Tapi Soal Cerita
Di era media sosial dan experience economy, orang berwisata bukan sekadar untuk “pergi ke tempat tertentu”, tetapi untuk mengalami dan membawa pulang cerita. Foto bagus bisa diambil di mana saja, tapi kisah yang menyentuh dan melekat di ingatan jauh lebih sulit ditiru.
Karena itu, di banyak kajian pariwisata terbaru, istilah storytelling muncul terus-menerus: dalam destination branding, promosi digital, desain tur, sampai pelatihan pemandu wisata. Cerita bukan lagi bumbu tambahan, tetapi inti dari pengalaman wisata itu sendiri.emerald+2
Artikel ini merangkum hasil riset internasional tentang storytelling di sektor wisata, lalu menerjemahkannya menjadi panduan praktis dan kritis untuk pelaku pariwisata: pengelola destinasi, desa wisata, pemandu, pemilik homestay, UMKM, dan dinas terkait.
1. Apa Itu Storytelling dalam Konteks Wisata?
Secara sederhana, storytelling pariwisata adalah:
Cara menyampaikan informasi tentang suatu tempat, budaya, atau pengalaman melalui narasi yang terstruktur (tokoh, alur, konflik, emosi), bukan sekadar daftar fakta.
Perbedaannya:
Tanpa storytelling
“Candi ini dibangun abad ke-9, tingginya sekian meter, fungsinya untuk ritual X.”Dengan storytelling
“Bayangkan 1.200 tahun lalu, saat matahari terbit dari balik gunung, ratusan pendeta berjalan naik ke sini sambil membawa persembahan. Di relief yang kamu lihat ini, ada kisah tentang seorang putri yang …”
Intinya, storytelling mengubah:
Data → menjadi drama
Objek → menjadi tokoh & latar
Informasi → menjadi pengalaman emosional
Dalam riset pariwisata:
Cerita membantu wisatawan “make sense of the destination” – memahami dan merasakan tempat, bukan hanya melihatnya.digitalcommons.usf+1
Destinasi yang punya portfolio cerita menarik cenderung memiliki identitas brand yang lebih kuat di mata pengunjung.digitalcommons.usf+2
2. Apa Kata Riset tentang Storytelling di Wisata?
2.1. Meningkatkan Brand Destinasi & Niat Berkunjung Kembali
Studi kuantitatif menunjukkan bahwa:
Cerita yang kuat tentang destinasi:
Meningkatkan persepsi brand value destinasi (nilai merek di mata wisatawan).
Membangun kepercayaan dan kesan autentik.
Mendorong niat untuk kembali dan merekomendasikan.ijmsssr+3
Dalam satu penelitian:
78% responden menyatakan lebih mungkin kembali ke destinasi yang memakai storytelling dengan baik.[liberteresearch]
80% mengatakan bersedia merekomendasikan destinasi tersebut karena cerita yang mereka dengar dan alami.[liberteresearch]
Penelitian lain tentang story marketing di objek wisata menemukan:
Storytelling yang bagus + keterlibatan wisatawan dalam cerita → niat berkunjung & berbelanja meningkat signifikan.[mdpi]
Artinya, skill storytelling bukan sekadar “keren” secara artistik, tetapi punya dampak nyata terhadap:
word of mouth,
repeat visitor,
dan ujungnya pendapatan destinasi.
2.2. Menguatkan Pengalaman Emosional & Kepuasan
Riset tentang pengalaman spa tourism menunjukkan:
Emosi seperti joy, love, dan positive surprise sangat berpengaruh terhadap:
citra destinasi,
kepuasan,
dan niat kembali.[emerald]
Storytelling adalah salah satu cara paling efektif untuk:
memicu keterlibatan emosional,
membangun rasa kagum, haru, atau kedekatan dengan tempat dan masyarakat lokal.emerald+2
Penelitian di heritage island (Yim Tin Tsai, Hong Kong) tentang narrative-based guiding menunjukkan bahwa:
Tur berbasis cerita:
membuat wisatawan lebih mudah mengingat sejarah dan budaya tempat itu,
menguatkan koneksi emosional dan kesan multi-sensoris (bau, suara, suasana).[tandfonline]
Wisatawan merasa pengalaman mereka lebih berkesan dan bermakna, bukan hanya “lihat-lihat”.[tandfonline]
2.3. Peran Pemandu Wisata: Interpretasi dan Cerita yang Membekas
Banyak studi menegaskan bahwa kinerja pemandu wisata – terutama dalam hal interpretasi & storytelling –:
berpengaruh kuat terhadap:
kepuasan wisatawan,
kualitas pengalaman yang diingat (memorable experiences),
dan loyalitas (niat kembali & merekomendasikan).jaauth.journals.ekb+4
Temuan penting:
Pemandu yang bukan hanya “menerangkan” tapi bercerita:
membuat nilai budaya & sejarah lebih mudah dipahami,
memenuhi kebutuhan emosional wisatawan (merasa tersentuh, terinspirasi),
meningkatkan peluang wisatawan untuk kembali dan bercerita ke orang lain.nscpolteksby+2
Penelitian di Upper Egypt heritage sites, misalnya, menunjukkan:
Kualitas interpretasi pemandu berpengaruh signifikan terhadap:
semua dimensi pengalaman yang berkesan,
dan loyalitas wisatawan.[jaauth.journals.ekb]
2.4. Storytelling Digital & Kampanye Destinasi
Dalam konteks promosi digital:
Studi tentang kampanye pariwisata menemukan bahwa:
Konten yang memasukkan unsur cerita, emosi, dan visual kuat menghasilkan:
engagement lebih tinggi,
klik lebih banyak,
dan niat berkunjung lebih besar dibanding promosi yang sekadar informatif.[ijmsssr]
Penelitian tentang destination brand storytelling menegaskan:
Cerita membantu wisatawan mengaitkan tempat dengan:
tokoh,
mitos,
suasana tertentu,
dan itu sangat efektif untuk komunikasi brand destinasi.scholarhub.ui+2
Riset tentang “story turn in tourism” menyebut ada tiga kekuatan utama yang mendorong ledakan storytelling di pariwisata:[emerald]
Peralihan ke wisata berbasis pengalaman (bukan sekadar objek).
Media sosial & konten buatan pengguna (UGC) yang penuh cerita pribadi.
Pengaruh Asia Wave – destinasi Asia (termasuk Indonesia) yang kaya narasi budaya dan spiritual, sehingga sangat cocok dipasarkan lewat cerita.[emerald]
3. Mengapa Skill Storytelling Krusial bagi Pelaku Wisata (Khususnya di Indonesia)?
3.1. Indonesia Kaya Cerita, Tapi Sering Diam
Indonesia punya:
ribuan cerita rakyat,
sejarah panjang kerajaan & kolonialisme,
tradisi lokal, kuliner, dan ritual yang unik,
bahkan narasi mistis di banyak situs warisan.
Sebuah studi tentang mystical narratives di situs warisan dunia UNESCO di Indonesia menemukan bahwa:[emerald]
Narasi spiritual, mitologis, dan supranatural:
membentuk identitas brand destinasi mistis (mystical destination brand identity),
menciptakan pengalaman yang emosional dan transformasional bagi pengunjung,
bila dikelola dengan sensitif dan melibatkan komunitas, bisa:
memperkuat keterlibatan,
dan mendukung konservasi warisan.[emerald]
Artinya:
Indonesia punya “bahan baku cerita” yang luar biasa – dari legenda Roro Jonggrang sampai kisah-kisah mistis di Candi, kampung tua, dan desa adat. Tantangannya: apakah pelaku wisata punya skill untuk mengolah dan menyampaikannya?
3.2. Diferensiasi dalam Pasar yang Penuh Saingan
Pantai bagus bukan cuma ada di Indonesia. Gunung indah juga ada di negara lain.
Yang sulit ditiru adalah:
Cerita lokal:
misalnya kisah warga, tradisi unik, perjuangan komunitas, sejarah kecil yang tak tercatat di buku pelajaran.Cara bercerita:
gaya pemandu lokal, suasana tur malam penuh lampu dan narasi, konten vlog yang mengajak penonton “ikut masuk cerita”.
Storytelling yang kuat:
Membuat destinasi punya “jiwa” di mata wisatawan – bukan sekadar “pantai A” atau “candi B”, tetapi:
“pantai tempat nelayan cerita soal badai besar 20 tahun lalu”,
“kampung tempat seorang nenek mengajari saya bikin jajanan tradisional sambil cerita masa kecilnya di era perang”.
3.3. Menghubungkan Wisatawan dengan Identitas Tempat
Penelitian tentang place identity & place attachment di heritage tourism menunjukkan:sciencedirect+2
Pengalaman yang menguatkan pemahaman wisatawan tentang:
“siapa” tempat itu (karakter),
nilai & makna yang dikandung,
kisah sejarah & budaya di baliknya,
akan:
meningkatkan rasa kedekatan (place attachment),
membangun identitas bersama,
dan mendukung pariwisata berkelanjutan (orang lebih peduli untuk menjaga).
Storytelling – terutama yang:
autentik,
melibatkan warga lokal,
dan mengangkat makna, bukan hanya fakta –
adalah alat utama untuk itu.
4. Elemen Penting Skill Storytelling dalam Wisata (Berbasis Riset)
Menggabungkan berbagai penelitian tentang tour guiding, narrative-based guiding, dan destination storytelling, ada beberapa elemen skill kunci:
4.1. Mampu Mengubah Fakta Menjadi Narasi
Banyak pemandu dan pengelola destinasi punya banyak informasi, tapi disajikan seperti buku paket:
monoton,
datar,
tanpa alur.
Riset menekankan pentingnya struktur naratif:jtos.polban+2
Tokoh
Siapa yang jadi fokus cerita?Raja, pejuang, nelayan, ibu rumah tangga, pahlawan lokal, bahkan pengunjung sebelumnya.
Konflik / tantangan
Apa masalah atau ketegangan yang terjadi?perang, bencana, larangan adat, kemiskinan, perjuangan mempertahankan budaya.
Resolusi
Bagaimana konflik itu (sementara) diselesaikan?pembangunan kembali, perdamaian, adaptasi, ritual tertentu.
Skill storytelling = kemampuan menyusun info destinasi ke dalam pola ini, bukan sekadar menyebut tanggal & nama.
4.2. Mengaktifkan Multi-Indera (Multi-Sensory Storytelling)
Penelitian pada narrative-based guiding dan heritage spatial perception menekankan:pmc.ncbi.nlm.nih+3
Pengalaman yang kuat melibatkan:
apa yang dilihat (visual),
apa yang didengar (suara),
apa yang dicium (bau khas),
apa yang diraba (tekstur),
bahkan apa yang dirasakan secara batin (aura, kesan).
Contoh praktis:
“Coba hirup bau kayu tua di rumah ini; bayangkan 80 tahun lalu saat…”
“Dengar suara ombak ini – penduduk lokal percaya kalau ombak setinggi ini adalah tanda…”
Skill storytelling yang kuat:
mengikat cerita dengan detail inderawi sehingga lebih hidup dan mudah diingat.
4.3. Autentik dan Berbasis Komunitas
Studi tentang mystical narratives di UNESCO sites Indonesia mengingatkan:[emerald]
Cerita bisa:
memperkaya pengalaman,
tapi juga menjadi problem kalau:
dipelintir berlebihan,
tidak menghormati keyakinan lokal,
atau dijadikan komoditas murahan.
Riset tentang authenticity dan place attachment juga menegaskan:sciencedirect+1
Wisatawan sekarang:
sangat peka terhadap keaslian,
cenderung kecewa jika merasa cerita “terlalu dibuat-buat”.
Artinya:
Skill storytelling yang baik:
tidak mengarang bebas,
bekerja sama dengan warga & tetua adat,
menjaga agar cerita tetap:
jujur,
menghormati konteks budaya,
dan tidak merendahkan nilai spiritual/mitis setempat.
4.4. Interaktif, Bukan Monolog
Penelitian tentang interpretive guiding menunjukkan bahwa tur yang:ejournal.internasional+2
mengajak wisatawan:
bertanya,
menebak,
berdiskusi,
berpartisipasi (misalnya bermain peran, mencoba alat tradisional),
lebih:
memuaskan,
berkesan,
dan berdampak pada perubahan sikap.
Skill storytelling modern:
bukan “pemandu bicara 1 jam, wisatawan diam”.
melainkan menciptakan ruang dialog: wisatawan menjadi bagian dari cerita, bukan sekadar penonton.
5. Contoh Penerapan Storytelling dalam Berbagai Jenis Wisata
5.1. Pemandu di Situs Sejarah / Heritage Walk
Alih-alih:
“Ini rumah tua dari tahun sekian, milik tokoh X, dipakai untuk…”
Bisa jadi:
“Bayangkan kamu hidup tahun 1920-an di Surabaya. Jalanan belum seramai sekarang, tapi di rumah ini seorang pemuda sering sembunyi bersama teman-temannya sambil menyusun koran gelap. Dari ruangan kecil di atas loteng, mereka menyiarkan….”
Studi tentang walking tour di kampung heritage (misalnya Peneleh, Surabaya) menekankan pentingnya tempat, aktivitas, dan makna sebagai bahan narasi yang membentuk identity kampung.[journal.ipb.ac]
5.2. Desa Wisata & Homestay
Setiap keluarga punya cerita:
bagaimana mereka dulu bertani,
bagaimana desa pernah dilanda banjir,
bagaimana tradisi tertentu hampir hilang lalu dihidupkan lagi.
Skill storytelling:
membuat tamu homestay merasa:
bukan sekadar menyewa kamar,
tetapi ikut “masuk” ke cerita hidup keluarga tersebut.
Ini juga memperkuat:
sense of place,
respect wisatawan terhadap adat & lingkungan,
dan peluang mereka untuk kembali atau mengajak orang lain.
5.3. Kuliner & Festival Makanan
Riset tentang festival kuliner menemukan:[ejournal.upi]
Pengalaman pengunjung tidak hanya ditentukan rasa makanan,
tetapi juga:
cerita di balik resep,
asal-usul bahan,
peran makanan dalam budaya.
Contoh:
Bukan hanya “ini sate khas daerah X”,
tetapi:
“Tahukah kamu, dulu sate ini hanya dimasak saat ada ritual tertentu karena…?”
Storytelling kuliner:
menghubungkan:
taste (rasa),
place (lokasi),
story (narasi),
sehingga kuliner menjadi alat branding dan pemersatu komunitas.[ejournal.upi]
5.4. Konten Digital: Video, Blog, dan Media Sosial
Studi tentang promosi digital destinasi menemukan:digitalcommons.usf+2
Kampanye yang memakai:
narasi personal,
pengalaman nyata wisatawan,
visual sinematik dengan alur cerita,
lebih efektif daripada iklan generik “ayo berkunjung ke X”.
Bagi pengelola wisata atau DMO, skill storytelling berarti:
bisa menyusun:
brand story destinasi,
kisah-kisah kecil (micro-stories) dari warga & pengunjung,
lalu mengemasnya di berbagai kanal (YouTube, IG, blog, TikTok).
6. Tantangan & Catatan Kritis: Storytelling Bukan Sulap, Bukan Juga Tipuan
6.1. Risiko Over-Storytelling: Cerita Lebih Jauh dari Realitas
Kalau terlalu mengejar sensasi:
ceritanya jadi:
lebay,
tidak akurat,
bahkan bertentangan dengan fakta sejarah atau keyakinan lokal.
Risikonya:
wisatawan merasa dibohongi,
masyarakat lokal merasa budayanya diperalat,
dalam jangka panjang,
merusak kepercayaan dan brand authenticity destinasi.pmc.ncbi.nlm.nih+1
Solusinya:
latih pemandu & content creator untuk:
melakukan riset dasar (wawancara warga, baca sumber),
membedakan mana:
fakta sejarah,
legenda,
opini,
dan menyampaikan dengan jujur:
“Menurur cerita yang beredar…”
“Versi yang dipercaya warga di sini adalah…”
6.2. Kesenjangan Skill di Lapangan
Banyak pelaku wisata:
paham bahwa “cerita itu penting”,
tetapi:
belum terlatih menyusun narasi,
belum terbiasa tampil sebagai storyteller (malu, gagap, kurang percaya diri).
Dari sisi kebijakan:
pelatihan pariwisata sering fokus pada:
standar layanan,
produk fisik,
administrasi,
sementara pelatihan storytelling, interpretasi, dan komunikasi naratif masih terbatas dan sporadis.ccsenet+1
Padahal, riset tentang story turn in tourism menyarankan:[emerald]
destinasi perlu:
mengintegrasikan storytelling ke:
pelatihan pemandu,
desain paket wisata,
strategi branding.
7. Penutup: Menggeser Mindset – Dari “Jual Tempat” ke “Jual Cerita”
Dari berbagai riset terbaru, benang merahnya jelas:
Storytelling memperkuat brand destinasi, meningkatkan persepsi nilai, kepercayaan, dan niat kembali.digitalcommons.usf+3
Storytelling via pemandu & interpretasi membuat pengalaman:
lebih berkesan,
lebih mudah diingat,
dan lebih mungkin diceritakan ulang oleh wisatawan.dergipark+4
Storytelling digital dalam kampanye pariwisata:
mendorong engagement,
menghidupkan citra destinasi,
dan menghubungkan calon wisatawan dengan identitas tempat.scholarhub.ui+2
Di negara seperti Indonesia, yang kaya akan:
sejarah,
mitos,
kearifan lokal,
dan keanekaragaman budaya,
skill storytelling bukan cuma “pelengkap”, tetapi senjata utama dalam:
membangun pariwisata yang:
berkesan,
berkelanjutan,
dan berpihak pada komunitas lokal.
Langkah praktis ke depan bagi pelaku wisata:
Latih diri dan tim (pemandu, frontliner, content creator) dalam teknik storytelling dasar.
Kumpulkan dan dokumentasikan cerita-cerita lokal bersama warga.
Pastikan setiap paket tur, homestay, festival, dan konten digital:
tidak hanya menjual pemandangan,
tetapi juga memberikan pengalaman cerita.
Pada akhirnya, wisatawan mungkin lupa detail angka dan fakta, tapi mereka jarang lupa cerita yang membuat mereka tertawa, terharu, atau merasa terhubung dengan manusia lain.
Dan di situlah, masa depan pariwisata akan ditentukan:
bukan oleh siapa yang punya bangunan paling megah, tetapi oleh siapa yang paling mampu bercerita dengan jujur, hangat, dan bermakna.
Komentar
Posting Komentar
Komentar tidak boleh mengandung Sara,kata-kata kotor,porno,dan bahasa yang tidak dikenal.Dan tidak boleh Spam